Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM MASA DINASTI UMAYAH TIMUR

A. Pendahuluan
Dalam sejarah yang lazim kita ketahui bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad, beliau tidak meninggalkan pesan atau wasiat apapun tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin dalam wilayah politik umat Islam. Tampaknya, beliau lebih menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Dilalah, setelah terjadi musyawarah antara sejumlah tokoh kaum Muhajirin dan Anshar yang berkumpul dibalai kota Bani Sa’idah, Madinah, maka terpilihlah Abu BAkar hingga Ali dinamakan dengan periode khulafa al-Rasyidin. Sementara Islam terus berkembang tidak terkecuali memasuki wilayah kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah.
Dinasti Umayyah adalah sebuah dinasti yang didirikan oleh keturunan Umayyah atas rintisan Muawiyah (661-680 M), yang berpusat di Damaskus. Daulah Umayyah merupakan fase ketiga kekuasaan Islam yang berlangsung selama lebih kurang satu abad. Fase ini tidak saja menunjukkan perubahan system kekuasaan Islam dari masa sebelumnya (masa Nabi dan khulafa al-Rasyidin), tetapi juga melahirkan perubahan-perubahan di bidang lain seperti sosial dan peradabannya. Bukti menonjol yang ditampilkan dinasti ini antara lain dengan melakukan pemindahan ibukota dari Madinah ke Damaskus, kepemimpinan dikuasai militer Arab dari lapisan bangsawan dan ekspansi kekuasaan Islam.
Dalam tulisan ini lebih memfokuskan pada Umayyah Timur, yang maksudnya adalah sebuah dinasti yang didirikan oleh keturuna Umayah atas rintisan Muawiyyah (661-680M), yang berpusat di Damaskus selain Umayyah Barat yang berkedudukan di Andalusia.

B. Kelahiran Bani Umayyah
Bani Umayyah adalah salah satu dari keluarga Quraisy, keturunan Umayyah bin Abdul Syaras bin Abdul Manaf, seorang pemimpin suku Quraisy yang terpandang. Umayyah bersaing dengan pamannya, Hasyim bin Abdul Manaf dalam memperebutkan kehormatan dan kepemimpinan masyarakat Quraisy. Ummyyah dinilai cukup memiliki persyaratan untuk pemimpin dan dihormati oleh masyarakatnya. Ia berasal dari keluarga bangsawan kaya dan mempunyai sepuluh putra. sebagain besar anggota keluarga Bani Umayyah menentang Nabi Muhammad Saw yang menyampaikan agama islam, sedangkan keluarga Bani Hasyim membelanya meskipun diantara mereka yang belum memeluk agama islam. Bani Hasyim membelanya terutama atas dasar ikatan kekerabatan, karena Nabi berasal dari Keluarga Bani Hasyim.
Pemutusan itu berakhir dan Bani Umayyah barun masuk Islam setelah Nabi Muhammad Saw berhasil menaklukkan kota Mekah pada tahun 8 H. sepeninggal Rasulullah, Bani Umayyah sesungguhnya telah menginginkan jabatan pengganti Rasul (khalifah), namun mereka belum berani untuk menunjukkan apalagi mewujudkan keinginan tersebut pada masa Abu Bakar dan Umar. Setelah Umar meninggal, Bani Umayyah dengan terang-terangan mendukung pencalonan Usman hingga akhirnya terpilih menjadi khalifah ke III. Pada masa pemerintahan Usman, Bani Ummayah banyak mendapat keuntungan. Sebagai anggota keluarga Bani Umayyah. Usman mengutamakan kerabatnya dengan memberikan hadiah dan kedudukan kepada mereka. Bani Umayyah memperoleh peluang besar untuk menduduki jabatan maupun kekeuasaan yang diberikan Usman. Pada masa inilah Muawiyah mencurahkan segala tenaganya untuk memperkuat dirinya, dan menyiapkan daerah Syam sebagai pusat kekuasaannya di kemudian hari.
Harapan untuk memperoleh kekuasaan yang lebih besar seakan terbuka jalannya setelah Usman dibunuh pada tahun 656 oleh para pemberontak yang menentang kebijakan nepotisme yang dipraktekkan pada masa itu dan penyalahgunaan harta baitulmal untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Mengawali usaha untuk meraih kekuasaan, Muawiyah bin Abi Sufran selaku pemimpin Bani Umayyah melakukan politisasi tragedy pembunuh Usman. Dengan gaya retorika yang meyakinkan. Muawiyah bermaksud untuk menarik simpati orang lain dengan memperlihatkan jubah Usman yang berlumuran darah dan jari – jari yang terputus dari tangan isteri Usman, Na’ilah yang terpotong ketika berusaha melindungi Usman. Usaha ini besar menunjukan hasil dengan datangnya dukungan untuk mengusut lebuh lanjut perihal pembunuhan Usman.
Ketika Ali bin Abi Thalib yang diangkat sahabat untuk menggantikan Usman, memerintahkan Muawiyah untuk menyerahkan jabatannya. Ia menolaknya, sebaliknya Muawiyah melakukan serangan balik dengan menuduh bahwa Ali juga bersekongkol dengan pemberontak atau paling tidak ikut melindungi pembunuh Usman. Ia menuntut Ali dihukum. Politisasi pembunuhan Usman yang dilakukan Muawiyah tempat cukup efektifyang melahirkan simpatidan dan fanatisme masyarakat Syria dalam mendukung perjuangan Muawiyah. Sikap penentangan Muawiyah ini dianggap Ali sebagai pemberontak yang harus diperangi. Meskipun demikian, Ali terlebih dahulu melakuakan upaya damai dengan memberikan surat, mengutus delegasi dan meminta Muawiyah untuk mengakui pemerintah Ali dan bergabung bersamanya. Namun pembicaraan yang berkepanjangan pada akhirnya tetap tidak menghasilkan sebuah hasil yang dapat mencegah terjadinya perang saudara.
Maka, di Siffin (daerah antar Syiria dan Irak tepi Barat Sungai Eufrat), terjadilah perang antara Ali dan Muawiyah yang kita kenal dengan perang siffin pada tahun 657. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Muawiyah terdesak dan hampir kalah. Dengan nasehat Amr bin ‘Ash agar pasukannya mengangkat mushaf al-quran tinggi-tinggi sebagai isyarat damai. Sebagian dari pasukan Ali berusaha menghentikan pertempuran, tapi sebagian lain tetap untuk berperang dan mengatakan itu semua hanya tipu muslihat Muawiyah. Terjadilah perpecahan di antara pengikut Ali, sehingga akhirnya Ali terpaksa menghentikan perang dan berjanji untuk menerima tahkim . Keputusan yang dihasilkan oleh pihak Ali yang diwakilkan oleh Abu Musa al-Asyari dan pihak Muawiyah oleh Amr bin ‘Ash ternyata membantu memperkuat kedudukan Muawiyah dan pengikutnya saja. Sehingga jelaslah bahwa sesungguhnya pihak Muawiyah tidak menawarkan arbitrase sebagai medium perdamaian, melainkan sebagai tipu muslihat semata. Hasil perundingan tersebut mengharuskan Ali untuk melepaskan jabatannya, untuk kemudian diadakan pemilihan khalifah yang baru. Dengan hasil ini, sudah barang tentu menjadikan bara permusuhan pihak Ali semakin berkobar dan semakin kuatlah alasan khawarij untuk memisahkan diri dan menentang Ali atas kelalaiannya menerima ajakan arbitrase tersebut. Oleh sebab itu, umat Islam terbagi menjadi tiga golongan kala itu, yakni: Bani Umayyah yang dipimpin Muawiyah. Syiah atau pendukung Ali dan Khawarij yang keluar dan inkar terhadap Ali.

C. Para Khalifah Umayyah
Wafatnya Ali merupakan jalan dan kesempatan baik bagi Muawiyah guna memuluskan niat dan rencanyanya menjadi penguasa. Dengan merelisasikan keputusan-keputusan perdamaian (arbitraase). Menjadikannya sebagai penguasa terkuat di wilayah kekuasaan Islam. Daulah Muawiyah, dengan ibu kotanya Damaskus berlangsung selama 91 tahun dan diperintah 14 orang khalifah. Mereka itu dalah Muawiyah (41 H/661) ,Yazid I (60 H/680), Muawiyah II (64 H/683), Marwan I (64 H/683), Abdul Malik (65 H/685), Walid I (86 H/956), Umar II (99 H/695), Yazid II (101 H/717), Hisyam (105 H/724), Walid II (125 H/ 743),Yazid III (126 H/744), Ibrahim (126 H/744), dan Marwan III (127 – 132 H/ 744 - 750).
Jika mencermati dari perkembangan kepempinan Khalifah yang 14 tersebut, maka periode Bani Umayyah dapat di bagi kepada tiga bahasa, yaitu permulaa, kejayaan, dan keruntuha. Pada masa awal di tandai dengan usaha – usaha Muawiyah meletakkan dasar – dasar pemerintahan dan orientasi kekuasaan; pembunuhan terhadap Husain bin Ali, perampasan kota Madinah, penyerbuan kota Makkah pada masa Yazid I dan perselisihan diantara suku – suku Arab pada masa Muawiyah II.
Sedangkan masa kejayaan dimulai pada masa pemerintahan Abdul Malik yang dianggap sebagai pendiri Daulah Umayyah kedua, karena mampu mencegah disentegrasi yang telah terjadi semenjak masa Marwan. Sebagai administrator ulung, iya berhasil menyempurnakan adnimistrasi Bani Umayyah. Pada masa Walid I, terciptalah kemakmuran kemenangan dan kejayaan. Negara Islam meluas dengan berhasinya berbagai ekspansi, terciptanya pembangunan gedung – gedung umum seperti masjid, perkantoran dan sebagainya.
Kejayaan Bani Umayyah pun berakhir pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ( Umar II ). Sepeninggal Umar II kekhalifaan mulai melemah dan akhirnya hancur. Para pengganti yang ada lebih mengutamakan kepentingan pribadi dari pada kepentingan umat. Berikutnya, pada tahun 750 M, terjadi pertempuran antara pasukan Abbasiyah yang dipimpin oleh Abu Muslim al – Khurasani dengan pasukan Bani Abas.
Berikut bagian silsilah dari Bani Umayyah.



Bani Umayyah


Abu al – ‘Ash Harb

Al – Hakam Affan Abu Sofyan
1. Muawiyah
Usman 2. Yazid I
4. Marwan 3. Muawiyah II
Muhammad 5. Abdul Malik Abdul Aziz

6. Walid 7. Sulaiman 9. Yazid II 10. Hisyam

12. Yazid III 13. Ibrahim 11. Walid II

14. Marwan II Khalifah Umawiyah di Spanyol




D. Sistem Pemerintahan, Kebijakan Politik dan Ekonomi

Pemindahan kekuasaan kepada Muawiyah mengakhiri bentuk demokrasi, kekhalifaan menjadi monarchi heridetis (kerajaan turun – temurun) yang diperoleh tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Kekhalifaan Muawiyah diperoleh dengan cara kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan cara pemilihan atau suara terbanyak. Sukses kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk memyatakan setia pada anaknya Yazid. Muawiyah bermaksud untuk mencontoh monarchi di Persia dan Byzantium.
Pada masa Muawiyah mulai diadakan perubahan-perubahan administrasi pemerintahan, dibentuknya pasukan bertombak untuk mengawal raja, dan membangun bagian khusus dalam masjid untuk pengamanan memorandumyang berasal dari khalifah. Para sejarawan mengatakan bahwadi dalam sejarah Islam, Muawiyyah orang pertama yang mendirikan balai – balai pendaftaran dan menaruh perhatian atas jawatan pos, yang tidak lama keumudian berkembang menjadi suatu susunan teratur, yang menghubungkan berbagai bagian Negara.
Sementara itu, orientasi kebijakan politik yang dibangun adalah selain memperkuat pertahanan adalah melakukan ekspansi wilayah kekuasaan. Pada masa Muawiyah, Uqbah ibn Nafi berhasil mengasai Tunis, kemudian mendirikan kota Qairawan tahun 760 M yang selanjutnya menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam. Di sebelah timur, Muawiyah memperoleh daerah Khurasan sampai Lahore Pakistan. Di sebelah barat dan utara diarahkan ke Byzantium. Ekspansi ke Timur dan Barat mencapai keberhasilannya pada zaman Walid I. masa pemerintahan Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam hidup dalam kebahagiaan. Selama pemerintahannya, terdapat tiga orang pimpinan pasukan terkemuka sebagai penakluk yaitu: Qutaibah ibn Muslim, Muhammad ibn al-Qasim dan Musa ibn Nusair.
Pada masa Abdul Malik, Qutaibah diangkat oleh Hajjaj ibn Yusuf, Gubernur Khurasan menjadi wakilnya pada tahun 86 H. Bersama pasukannya, Qutaibah menyebrangi sungai Oxus dan menundukkan Balikh, Bukhara. Khawarizm, Farghana dan Masarkand. Kemudian menerapkan kedudukannya di Transoxiana. Sementara Muhammad ibn Qasim diberi kepercayaan untuk menundukkan India. Mengepung pelabuhan Deibul di muara sungai Indus dan diberi nama baru Mihram. Ia melakukan ekspansi ke seluruh penjuru Sind, sehingga tiba di Maltan, di sebelah Punjab. Semenjak berhasil mengepung Brahmanabat dan menyeberangi Bayas, Maltan menyerah kepada pasukan ibn al-Qasim.
Ekspansi ke Barat di zaman Walid I dilakukan oleh Musa ibn Nusair yang berhasil menyerang Aljazair dan Maroko. Setelah menundukkannya, ia mengangkat Tariq bin Ziyad untuk memimpin pemerintahan di sana. Musa pun mengirim Tariq untuk menyerbu Spanyol bersama orang-orang Barbar, mereka berhasil menaklukkan Spanyol. Dengan demikian terbukalah pintu untuk menguasai Spanyol. Toledo, ibu kotanya jatuh ke tangan pasukan Muslim. Begitu juga kota-kota lain seperti Sevile, Malaga, Elvira dan Cordoba. Cordoba kemudian menjadi ibu kota Spanyol Islam yang kemudian di sebut dengan Andalus. Maka wilayah-wilayah kekuasaan Islam pada masa Umayyah ini meliputi Spanyol. Afrika utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, Sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut dengan Pakistan, Uzbekistan, Kilgis di Asia Tengah.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam secara luas itu menjadikan orang-orang Arab bertempat tinggal di daerah-daerah yang telah dikuasai itu. Prinsip keuangan Negara yang diberlakukan mengikuti apa yang pernah ada pada masa khulafa al-Rasyidun, yaitu penetapan pajak tanah dan pajak perorangan untuk setiap individu penghuni daerah-daerah taklukkan yang itu menjadi income bagi pemerintah Umayyah.
Di samping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang, seperti mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya disepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Jabatan khusus seorang hakim yang menjadi profesi sendiri juga terjadi pada masa ini, Abdul Malik juga melakukan pembenahan-pembenahan administrasi dan pemberlakuan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Artinya bahasa resmi dari Daulah Umawiyah adalah bahasa Arab, bahkan adat istiadat dan sikap hidup mereka harus mencerminkan Arab.

E. Perkembangan Peradaban

a. Arsitektur
Seni bangunan pada zaman Umawiyah bertumpu pada bangunan sipil berupa kota kota, dan bangunan agama berupa masjid-masjid. Beberapa kota baru atau perbaikan kota lama telah dibangun dalam zaman Umawiyah yang diikuti dengan pembangunan berbagai gedung dengan gaya perpaduan Persia Romawi dan Arab dengan dijiwai semangat Islam. Adalah Masjid Baitul Maqdis di Yerussalem yang terkenal dengan kubah batunya (Qubbah al-Sakhra) yang didirikan pada masa Abdul Malik (691 M) termasuk peninggalan arsitektur yang terindah, selain masjid al-Aqhsa yang tidak kalah tinggi seni arsitekturnya. Di kota Damaskus, terdapat bangunan indah yang bernilai seni, dilengkapi dengan jalan-jalan dan taman-taman rekreasi yang menakjubkan. Muawiyah membangun “istana hijau” di Miyata yang kemudian dilakukan rehabilitasi pada tahun 704 M oleh Walid ibn Abd al-Malik. Pada masa Walid dibangun masjid agung yang terkenal dengan nama “Masjid Damaskus” atas kreasi arsitektur Abu Ubaidah ibn Jarrah. Pembangunan masjid yang berukuran 300x200 m2 dan memiliki 68 pilar dilengkapi dinding yang berukiran indah tersebut dilakukan oleh 12.000 tukang bangunan dari Romawi. Pada masjid tersebut, qubah-qubahnya berbentuk tapak besi kuda bulat. Pertemuan dari garis-garis ke titiknya dibayangkan oleh kaki tiang di atasnya. Di atas jalan beratap lengkung besar, di sekelilingnya terdapat puncak-puncak barisan ambang pintu yang berbentuk setengah bundar. Adapun ruangan dalam dari masjid dihiasi dengan ukiran-ukiran indah, marmer halus (mosaics) dan pintu-pintunya dipasang menggunakan kaca warna-warni.
b. Perdagangan
Setelah Daulah Umayyah berhasil menguasai wilayah yang cukup luas, maka lalu lintas perdagangan mendapat jaminan yang layak. Lalu lintas darat melalui jalan sutera ke Tiongkok untuk memperlancar perdagangan sutera, keramik, obat-obatan dan wewangian . Adapun lalu lintas di lautan ke arah negeri belahan timur untuk mencari rempah-rempah. Dengan demikian menjadikan ibu kota Basrah di teluk Persi menjadi pelabuhan dagang yang ramai dan makmur.
c. Organisasi Militer
Salah satu kemajuan masa pemerintahan dinasti Umayyah adalah di bidang kemiliteran. Selama peperangan dengan militer Romawi, pasukan Arab mengambil pelajaran teknik kemiliteran mereka dan mengkombinasikannya dengan system pertahanan yang telah dimiliki sebelumnya. Terdapat tiga front peperangan yang tercatat mencapai sukses gemilang kecuali pengepungan kota konstatinopel. Pertama, font peperangan dengan kekuatan Romawi di Asia kecil, meliputi penyerbuan Konstatinopel dan penyerangan beberapa kepulauan di laut tengah. Kedua, front Afrika Utara dan meluas sampai ke wilayah pantai Atlantik, kemudian menyeberang selat Gibraltar hingga sampai ke Spanyol. Ketiga, front timur melalui jalur sungai Darya di Syiria dan melalui jalur utara sampai ke daratan Sindus, India. Kemajuan dalam bidang ini juga ditandai dengan terbentuknya kekuatan Angkatan Laut Islam oleh Muawiyah.

F. Penutup
Demikian kekuasaan Islam dalam kepemimpinan Bani Umayyah Timur. Walau berlangsng dalam pembentukan monarchi Arab dengan mengandalakan panglima-panglima Arab lapisan arsitokrat yang sesungguhnya berlawanan dengan kebijaksanaan Nabi dan khalifah sebelumnya. Bagaimanapun Dinasti Umayyah telah memberikan introduksi dan mengembangkan lembaga-lembaga dalam pemerintahan Islam.
Wallahu’a’lam bi al-showab.

BIBLIOGRAFI
Abdurrahman, Dudung, Sejarah Peradaban Islam, Dari Klasik Hingga Modern, ed. Siti Mayam dkk, (Jogjakarta: Jurusan SPI Fakultas Adab & LESFI, 2003)
Ali, K, Sejarah Islam Dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Utsmani (Tarikh Pramodern, terj. Jakarta: PT Grafindo Persada, 1996)
Al-Maududi, Abu A’la, Khilafah dan Kerajaan, terje. (Bandung: Mizan, 1984)
Chair, Abdul “Dinasti Umayyah” dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, jil. II, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van hoeve, tt)
Hasjmy, A, Sejarah Kebudayaan Islam, (Bandung: Bulan Bintang, 1975)
Hassan, Hassan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj. (Yogyakarta: Kota Kembang. 1989)
Syalaby, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam I. Muhtar Yahya. (Jakarta: Pustaka al-Husna.1983)
Montgomerry, W, Pergolakan Pemikiran Politik Islam, ( Jakarta: Bennabi Cipta. 1985)
Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press. 1985)
Hitty, Philip. K, Dunia Arab, terj. (Bandung: Sumur Bandung, t.t.)
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar